2017-01-02

Cara Menghilangkan Kebiasaan Anak yang Suka Ngompol di Kasur Tempat Tidur

Bagaimana Cara Mengatasi/Menghilangkan Kebiasaan Anak yang Suka Ngompol di Kasur atau Tempat Tidur?_Kasur atau tempat tidur lainnya yang diompolin oleh Anak menjadikan rumah tidak sehat. Para orang tua juga tidak boleh marah dengan anak yang suka ngompol, karena masalah anak ngompol di tempat tidur bisa diatasi dengan beberapa cara. Menghilangkan kebiasaan anak yang suka ngompol memang terbilang susah-susah mudah. Ada kalanya, anak berusia 4 tahun sudah terbiasa ngomong jika mau pipis sehingga tidak sampai ngompol, namun sering juga terjadi anak yang sudah berusia di atas itu malah masih ngompol. Nah sebelum kita membahas mengenai cara menghilangkan kebiasaan ngompol pada anak, sebaiknya ketahui dulu beberapa penyebabnya berikut ini
Cara Menghilangkan Kebiasaan Anak yang Suka Ngompol di Kasur Tempat Tidur

Beberapa penyebab kebiasaan mengompol pada anak antara lain:
  • Gejala infeksi saluran kencing serta gangguan system saraf yang berpengaruh pada psikis pada anak.
  • Belum adanya kesiapan secara fisik pada kandung kemih sang anak , sehingga menyebabkan anak sering buang air kecil meskipun kadar urine yang dikeluarkan sedikit.
  • Anak belum mengetahui kebiasaan pergi ke toilet meskipun hanya untuk membuang air kecil. 
Walaupun kebiasaan ngompol pada anak merupakan hal yang wajar dan dapat dimaklumi, tetapi jika di biarkan hingga 4 tahun ke atas belum ada tindakan dari orang tua untuk melatih anaknya tersebut, ditakutkan hal itu bisa berdampak buruk pada psikologis sang anak. Entah karena pengaruh faktor eksternal maupun internal.

Oleh sebab itu sebaiknya sejak dini mulai dari umur 2 tahun sang anak mulai dikenalkan atau dibiasakan untuk pips sebelum tidur. Dan juga melakukan beberapa tips yang kami bagikan di bawah ini.

Cara menghilangkan kebiasaan anak mengompol di  tempat tidur:

1. Toilet training
Toilet training merupakan metode latihan untuk membentuk kemandirian serta kebiasaan anak dalam melakukan aktivitas buang air kecil ataupun buang air besar pada tempatnya yaitu toilet.

Membiasakan anak untuk buang air kecil ditoilet dapat membantu mengatasi masalah mengompol pada waktu tidur.

Dengan pelatihan tersebut mereka akan tahu bahwa tempat yang benar untuk buang air kecil adalah toilet, bukan di celana ataupun tempat lainnya.

Secara psikologis tentunya hal tersebut dapat mendorong kemandiriaan anak sejak dini.

Kemampuan menggunakan toilet juga bermanfaat untuk mengetahui apakah anak tumbuh dengan normal ataupun tidak.

Adapun penerapan toilet training dalam mengatasi kebiasaan mengompol pada anak, antara lain:
a. Pahami kondisi anak
Setiap anak memiliki tahap perkembangan yang berbeda-beda. Maka dari itu para orang tua wajib mengetahui keadakan fisik dan juga emosional dari anak. Ketika anak berusia dibawah 5 tahun, tentunya wajar jika kebiasaan mengompol di tempat tidur sering mereka lakukan. Maka dari itu hindari untuk memarahi anak ketika mereka mengompol.

Cobalah untuk mengajari anak secara intens agar tidak lagi mengeluarkkan air kencing di popok ataupun celana melainkan di toilet.

Ajari mereka secara pelan-pelan sesuai dengan kondisi dari sang anak. Ketika Anda terlalu memaksakan, anak akan lebih cenderung melakukan penolakan.

b. Mengenalkan kepada anak tentang toilet
Awali dengan memberikan penjelasan terhadap anak tentang penggunaan toilet untuk buang air kecil ataupun buang besar.

Anjurkan kepada mereka untuk menggunakan toilet ketika mereka ingin buang air kecil. Selain itu ajarkan pula untuk tidak pipis pada celana atau popok.

Hindari untuk menggunakan kata “jangan”, ketika memberikan anjuran kepada anak. karena kebiasaan anak jika dicegah mereka justru malah akan cenderung melawan apa yang orang dewasa katakakan.

c. Mengajak anak beraktivitas di toilet
Pada saat Anda ingin beraktivitas di toilet ajak serta anak. hal tersebut bertujuan memberikan gambaran kepada anak, aktivitas apa saja yang sepatutnya dilakukan di toilet.

Kegiatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan logika pada anak, sehingga apabila anak ingin buang air kecil, mereka akan terbiasa bicara kepada orantua dan mengajak orang tua melakukan hal yang sama seperti apa yang mereka lihat pada saat Anda beraktivitas di toilet.

d. Mengajari cara menggunakan toilet pada saat buang air kecil
Tahap pertama, ajarkan mereka cara duduk di kloset dengan benar. Lalu setelah selesai ajarkan untuk membesihkan alat kelamin mereka. Setelah semua aktifitas di toilet selesai, biasakan untuk mnegajari mereka mencuci tangan setelah menggunakan toilet.

2. Urotherapy
Untuk menghilangkan kebiasaan mengompol pada anak, bidang urologi juga dapat membantu mengatasi masalah tersebut dengan memperhatikan beberapa hal, yaitu.
a. Memperhatikan asupan cairan untuk sangat penting dilakukan untuk mengatasi masalah ngompol pada anak. Berikan sekitar lima hingga enam gelas per hari, serta hindari memberikan minuman yang memiliki kandungan kafein dan susu cokelat.

b. Hindarkan anak untuk mengkonsumsi minuman dengan jumlah berlebih pada sore hari, ataupun mendekati waktu tidur.

c. Hindari untuk memberikan obat sembelit pada anak karena dapat mempengaruhi kandung kemihnya.

3. Obat
Salah satu jenis obat yang dapat digunakan untuk mengatasi ngompol pada anak yaitu Desmopresin. obat ini tersedia dalam bentuk tablet, sirup dan semprot hidung. Desmopresin sendiri adalah hormon sintetis yang mengandung efek anti-diuretik dan bekerja pada ginjal sehingga produksi urine dalam semalam dapat dikurangi.

Hampir 70% kasus ngompol pada anak dapat teratasi menggunakan obat ini. Namun penggunaanya juga dalam jangka pendek. Desmopresin dapat digunakan sebagai alternative terakhir untuk menghilangkan kebiasaan ngompol pada anak.

Untuk mencegah ngompol pada anak juga dapat menggunakan beberapa bahan alami seperti buah jamblang, adas pulasari, tulang cumi-cumi, tumbuhan rosa multifona tumb, biji kucai, telor ayam kampung.

Peran orangtua serta lingkungan keluarga sangat besar untuk membantu sang anak dalam melakukan terapi agar masalah ngompol waktu tidur dapat diatasi. Seperti yang kita ketahui bahwa pada usia pra sekolah, anak masih belum mampu menggunakan logika mereka secara penuh.

Artikel Pilihan
Silakan bagikan artikel ke media sosial lewat tombol share di bawah ini:

Artikel Pilihan

Memuat...
 
Home - Daftar Isi- Sitemap - Disclaimer - Privacy Policy Contact Us -
Back To Top